Bangunan Peninggalan Kolonial Belanda di Bogor
Rumah Profesor Treub

Bangunan Peninggalan Kolonial Belanda di Bogor

Pada tahun 1935 kolonial Kerajaan Blanda dilucuti di Afrika, Ceylon dan Guyana, tetapi koloni Belanda di Hindia Belanda, Suriname dan 6 kepulauan antilles masih terbentang luas, sekitar 2.080.0000 sq/km dengan populasi jumlah penduduk mencapai 69 juta jiwa (80 juta jiwa di 1940). Merupakan kekaisaran koloni terbesar setelah inggris dan Perancis.

Perusahaan dagang kerajaan Belanda, VOC menyingkirkan semua sainganya dalam perdagangan di Asia. Antara tahun 1602 sampai dengan 1796 VOC mengirimkan hampir satu juta orang Eropa untuk bekerja di sektor perdagangan Asia dengan lebih dari 2.5 juta ton komoditi diperdagangkan yang diangkut dalam 4785 kapal. Terlihat kontras bila dibandingkan dengan seluruh eropa pada tahun 1500 sampai dengan 1795 yang hanya mengirim 882,412 orang. Pesaiang VOC terdekat adalah perusahaan dagang Inggris  East India Company dan hanya seperlima dari barang yang diperdagangkan VOC dengan total 2.690 kapal.

Selama Pemerinatahan kolonial Belanda di Indonesia banyak dibangun gedung-gedung untuk keperluan kerajaan Belanda seperti perkantoran, jalan, rel kereta api, benteng, pelabuhan atau sekolah-sekolah.

Berikut ini adalah bangunan bersejarah peninggalan Kolonial Belanda yang berada di Bogor.

Buitenzorg Palace 1744 (Isatana Bogor)

Istana Bogor Sebelum Gempa Bumi 1834
Istana Bogor Sebelum Gempa Bumi 1834
Wiki Commons
Wiki Commons

 

Istana Bogor dilihat dari atas pesawat pembom Glenn Martin milik tentara Kerajaan Belanda (KNIL).
Istana Bogor dilihat dari atas pesawat pembom Glenn Martin milik tentara Kerajaan Belanda (KNIL).
Salah satu ruangan di Istana Bogor
Salah satu ruangan di Istana Bogor
Ruangan lainya pada bagian dalam Istana Bogor
Ruangan lainya pada bagian dalam Istana Bogor

 

 

Picture by Malik_Braun at Flickr
aerocristobal’s photostream on Flickr
aerocristobal's photostream on Flickr
Picture by Dennis Ardon on Flickr
Picture by Dennis Ardon on Flickr
Picture by Dennis Ardon on Flickr
Pendapat Anda