14 Mei 1998

Tragedi 14 Mei 1998, Ratusan Penjarah Tewas Terpanggang

,

Berikut merupakan informasi yang dilansir dari media online Kompas, 16 Mei 1998, mengenai ratusan penjarah yang tewas terpanggang dan kondisi Jakarta saat itu.

Ratusan penjarah tewas terpanggang dalam peristiwa kerusuhan yang melanda Wilayah DKI Jakarta sepanjang Kamis (14/5). Menurut Kadispen Mabes Polri Brigjen (Pol) Drs Da’i Bachtiar, Jumat, jumlah korban yang tewas di wilayah DKI saja sekitar 200 orang. Jumlah itu belum termasuk 20 korban tewas akibat terjatuh saat berusaha meloloskan diri dari kepungan asap dan api.

Sedangkan di Kotamadya Tangerang, jumlah penjarah yang tewas terpanggang sekitar 100 orang. Jasad-jasad para korban sebagian besar dalam keadaan hangus.

Sementara itu, Presiden Soeharto setelah mendengar laporan dan evaluasi perkembangan terakhir, terutama dari Menko Polkam dan para menteri di lingkungan Polkam, di Jl Cendana, Jumat, menginstruksikan untuk mengambil tindakan sesuai undang-undang yang berlaku, terhadap kegiatan yang jelas-jelas bersifat kriminal, seperti penjarahan dan perampokan.

“Kepada rakyat banyak, Presiden dengan tulus menyampaikan imbauan agar tenang, dan bersama-sama menjaga ketertiban dan keamanan sehingga masyarakat dan bangsa ini tidak menderita. Jangan sampai menderita karena tindakan-tindakan di luar hukum dan tindakan-tindakan di luar Undang-undang Dasar,” kata Alwi Dahlan.

Menyinggung kasus penembakan di Trisakti, menurut Alwi Dahlan, Presiden Soeharto setuju upaya Menhankam/Pangab untuk menjelaskan secara transparan kepada masyarakat tindakan yang diambil.

14 Mei 1998 2 300x195 Tragedi 14 Mei 1998, Ratusan Penjarah Tewas Terpanggang

Terjebak api

Korban-korban tewas di DKI Jakarta, umumnya terjebak api yang membara di Plaza Sentral Klender dan Ramayana Koja. Hal itu terjadi karena ketika sebagian massa sedang menjarah, sebagian lagi melakukan pembakaran. Ketika api telah membesar, para penjarah kemudian terjebak sampai akhirnya membawa malapetaka. Sedikitnya 30 orang tewas karena melompat dari lantai-satu, dua dan tiga untuk menyelamatkan diri dari kepungan asap dan api.

Penjarah lainnya agaknya langsung pingsan begitu disergap asap dan kemudian tewas terpanggang. Menurut Sri Indahyati, Sekretaris Pengurus PMI (Palang Merah Indonesia) Jakarta Timur, evakuasi yang dimulai sejak pukul 07.30 WIB hingga sekitar pukul 17.00 WIB, berhasil mengumpulkan seluruhnya 118 jasad yang sudah dalam keadaan hangus. Tak ada lagi yang bisa dikenali sehingga jasad-jasad itu langsung dikirim ke RSCM Jakarta Pusat.

Korban lainnya dari Ramayana Koja Jakarta Utara dan sejumlah tempat lainnya di Jakarta Barat juga sudah dievakuasi. Evakuasi korban di dua toko-serba-ada, Matahari dan Sabar Subur dihentikan pukul 19.20 WIB. Para petugas sulit menyisir setiap lantai karena masih ada asap dan kobaran api. Diduga, masih banyak jasad yang belum ditemukan.

Menurut Syafi’i, petugas kamar mayat RSCM, Jumat (15/5) pagi mereka diminta PMI untuk menyiapkan 170 kantong mayat untuk korban kerusuhan di Plaza Sentral Klender, 36 Ramayana Koja, dan 300 Ramayana Cileduk. Bila jumlah korban dihitung berdasarkan permintaan itu, maka jumlahnya 506. Belum termasuk 22 mayat dari sejumlah lokasi penjarahan di kawasan Jakarta Barat.

Luka tembak

Sementara itu isak tangis sanak keluarga korban tidak terbendung lagi di kamar mayat RSCM Jakarta. “Allahuakbar, Allahuakbar…” teriak MZ Arifin, sembari membopong kantong plastik yang berisi jasad anaknya, Moh Ikhwan.

Sedang Effendi meraung-raung ketika melihat tubuh anaknya, Teddy Kennedy (22), terbujur kaku. Inilah satu-satunya mayat yang terlihat utuh hingga petang kemarin. “Kenapa harus anak saya yang tewas. Ditembak lagi,” raungnya.

Tidak jelas dari mana Effendi mendapat kabar bahwa anaknya tewas tertembak. Namun tim dokter kamar mayat yang kemudian memeriksa tubuh Kennedy, menemukan tiga bekas luka tembak. Satu yang mematikan adalah luka di lehernya.

Menurut warga Pondok Gede yang datang ke RSCM mengendarai sepeda motor ini, anaknya selama ini memang aktif dalam berbagai unjuk rasa. Termasuk di kawasan Jatinegara. Kennedy adalah anak tertua dari sembilan bersaudara.

Menurut Budi, seorang keluarga korban, sekitar pukul 00.00 -pergantian Kamis-Jumat-mereka mencoba mendobrak masuk ke lantai dua dan tiga Plaza Sentral untuk mencari adiknya itu. Di sini mereka menyaksikan banyak sekali mayat bergelimpangan dan sudah menjadi arang. “Belum lagi di lantai empat dan lima. Sungguh mengerikan,” ujarnya.

Masyarakat sendiri sempat mengupayakan pertolongan setelah sejumlah orang berteriak-teriak minta pertolongan. Dengan tali dan menumpuk sejumlah kasur, sedikitnya berhasil diselamatkan 30 orang. “Mereka kami bawa ke RS Islam,” ujar Bambang.

Seorang perempuan bersama dua keluarganya yang datang ke Kamar Jenazah RSCM Jumat kemarin, terkulai lemas tatkala melihat secarik KTP yang nyaris hangus namun menyisakan foto pemilik KTP. “Itu abang saya, namanya Suherman,” ujarnya lirih.

Sementara itu kesibukan di kamar mayat RSCM terus meningkat sejak kemarin sore. Raungan sirene ambulans yang membawa jenazah korban kerusuhan tidak henti-hentinya terdengar. Sedang sanak saudara korban makin membanjir sejak siang hari.

Sederet telepon umum yang berada di depan kamar mayat seolah tidak mampu melayani mereka. “Saya baru menelepon ke Padang, memberi tahu pada orangtuanya bahwa Edi (22) telah tewas,” ujar Agus, paman korban. Edi selama ini mencari nafkah di rantau sebagai pedagang kaki lima. Kini isak tangis di kamar mayat telah berubah menjadi penyesalan yang amat mendalam atas kerusuhan itu.

Mahasiswa menjaga

Di pinggiran Jakarta khususnya sekitar Ciputat, upaya penjarahan disertai pembakaran sempat berlangsung sampai lepas tengah hari. Namun aksi para penjarah itu tidak sampai terus menjalar ke Pamulang. Meskipun demikian, masyarakat di kompleks-kompleks perumahan sekitar Pamulang terus berjaga-jaga dan menutup jalan-jalan menuju kompleks, meskipun tergolong jalan raya utama seperti jalan dari Pamulang menuju Pondok Cabe.

Meskipun demikian, upaya meminta secara paksa oleh sekelompok masyarakat terhadap kelompok masyarakat lain yang memiliki toko, masih berlangsung. Para pemilik toko kecil di dalam kawasan perumahan, tak berdaya untuk mengelak karena mengkhawatirkan hal-hal yang lebih parah.

Kawasan pertokoan Pamulang yang sudah “habis” dijarah pada Kamis (14/5) malam, tidak sampai menjadi korban jarahan lagi dengan turunnya sekitar 500 mahasiswa Institut Teknologi Indonesia (ITI) yang kampusnya berada sekitar tiga kilometer dari Pamulang sejak pagi hari. Dengan mengenakan jaket almamater oranye, para mahasiswa dengan bersenjatakan tongkat seadanya mengatur lalu lintas dan juga menjagai pertokoan. Penjagaan para mahasiswa ITI yang kemudian didukung oleh sejumlah mahasiswa perguruan tinggi lain yang tinggal di kawasan Pamulang, terus berlangsung sampai malam hari.

Hujan yang turun menjelang magrib, lebih membantu terciptanya suasana tenteram di berbagai tempat di selatan Jakarta. Mulai pukul 18.00 WIB, stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) Ciputat sudah membuka kegiatannya kembali. Di sekitar Pondok Indah, SPBU pun mulai melayani kembali masyarakat selepas magrib. Massa perusuh yang semula “menguasai” kawasan ini, sudah tidak terlihat lagi, digantikan dengan siap-siaganya tank dan panser, serta sejumlah pasukan keamanan. Sementara itu, dua SPBU lain yang berada di Jalan Sultan Iskandar Muda masih belum beroperasi. Lalu lintas secara umum ke arah selatan Jakarta masih relatif sepi, namun sudah cukup banyak angkutan kota yang beroperasi kembali.

Kerusuhan di Cinere

Kerusuhan melanda kawasan Cinere dan Pondok Labu, Jakarta Selatan, Jumat selepas tengah hari hingga petang. Di sekitar Pasar Cinere, sedikitnya sebuah toko bahan bangunan, sebuah toko kelontong, sebuah dealer sepeda motor, ludes dijarah perusuh yang jumlahnya mencapai ribuan. Sekitar 40 sepeda motor dari dealer yang dijarah, dibakar massa di tengah jalan. Turut hangus pula tiga buah kendaraan roda empat.

Kerusuhan di Pasar Cinere berawal sekitar pukul 14.00 WIB, saat ribuan massa mulai berkumpul di sekitar pasar dan melempari toko-toko dengan batu. Kumpulan perusuh itu sempat bergerak ke arah Mal Cinere, tetapi berhasil dihalau oleh aparat keamanan.

Namun demikian, massa tanpa tercegah berhasil menjarah beberapa toko di sekitar pasar. Sekitar pukul 17.30 WIB, masih tampak kelompok kecil massa membawa barang-barang jarahan seperti susu, beras, rokok, semen, cat, dan sebagainya. Sementara itu, puluhan rongsokan motor dibawa pergi oleh beberapa pedagang besi tua. Untuk menghindari kerusuhan lebih jauh, aparat keamanan berjaga-jaga di kawasan itu, dengan dilengkapi dua tank.

Ratusan massa juga sempat mengancam Pasar Inpres Pondok Labu dan toko-toko di sekitarnya, tetapi berhasil dibubarkan oleh aparat keamanan. Namun, massa sempat melempari sebuah kantor bank swasta hingga kaca gedung pecah.

Kompleks perumahan

Di wilayah pinggiran kota, mulai dari perbatasan kota antara Jakarta dan Bekasi, hingga di berbagai komplek perumahan di Bekasi penjarahan justru mulai marak. Suasana siaga dan siap perang ditunjukkan warga di Wisma Asri Bekasi Utara, setelah melihat beberapa toko dijarah dan kemudian dibakar oleh massa tak dikenal. Pembakaran di perumahan Wisma Asri itu, tidak hanya sebatas toko kelontong, tetapi juga toko material.

“Kita tidak tahu dari mana mereka. Pagi-pagi seperti ini mereka sudah datang menjarah. Pokoknya sekarang ini, kita siap hadapi mereka dengan peralatan seadanya, apakah petungan kayu, besi, maupun golok. Kita harus amankan, kalau tidak mereka menganggap kita lemah dan akan terus dijarah. Meski pun kita sendiri lelah, karena semalaman sudah ronda,” kata Tono, warga Wisma Asri yang memimpin operasi perlawanan tersebut.

Keadaan siaga ini tidak hanya ditunjukkan warga Wisma Asri, tetapi juga warga perumahan Vila Indah Permai, Permata Hijau, maupun Villa Garden. Sementara itu, di wilayah perbatasan Bekasi, tepatnya di pertokoan dekat perempatan pabrik minuman Aqua, Pondok Unggu, Bekasi, massa tetap saja menjarah. Bahkan operasi penjarahan semakin buas. Para penjarah ini umumnya berada dalam kelompok sebanyak delapan orang dan mengendarai kendaraan minibus.

Satu-satunya wilayah Jakarta yang sampai kini dijaga ketat, adalah daerah seputaran Kelapa Gading. Di wilayah ini tak satu pun toko, termasuk Goro dan Makro yang mampu terjarah. Massa penjarah tak mampu menembus barikade pasukan keamanan. (mt/we/uu/msh/nn/boy/ssd/mul/cc/xta/lom/oki/ush/gg/ast/rie)

Baca juga:

Foto-Foto Mengenang Tragedi Kerusuhan Mei 1998

(Sumber: Kompas Online, 16 Mei 1998)

Admin @SejarahRI Twitter

Komentar

Berita Terbaru