• Tag

  • Berita Pilihan

    1

    Ancaman Perang Antara Kesultanan Sulu dan Malaysia di Borneo Utara

    Duniafilipinakesultanan sulumalaysiaPerang

    Sekitar seratus orang bersenjata dari Kesultanan Sulu, Filipina telah menduduki wilayah Malaysia di Sabah Borneo utara selama dua pekan. Mereka menuntut supaya pemerintah Malaysia mengembalikan wilayah Lahat Datu kepada mereka.

    Ketegangan ini semakin memanas ketika Menteri Dalam Negeri Malaysia Datuk Seri Hishammuddin Tun Hussein menyatakan bahwa tidak ada kompromi dalam hal penegakan kedaulatan. Dia juga berharap supaya Kesultanan Sulu tidak memaksa Malaysia untuk melakukan aksi militer.

    Meski demikian, segala jalan perdamaian tetap diupayakan untuk menghindari benturan antara kedua belah pihak. Aksi pendudukan ini merupakan buntut dari persoalan konflik dalam negeri di Filipina.

    Selama bertahun-tahun, negara ini dilanda konflik berkepanjangan antara pemerintah dan MILF (Front Pembebasan Islam Moro). Demi tercapainya kesepakatan damai, pemerintah Filipina sepakat untuk memberikan  wilayah otonomi kepada bangsa Moro.

    Kebijakan ini ternyata menyebabkan Kesultanan Sulu merasa dirugikan dan perlu mengambil kembali lahan yang sebelumnya mereka miliki. Dulunya, lahan ini dikenal sebagai Borneo Utara dan sekarang bernama Sabah yang berada dalam territorial Malaysia.

    N borneo ops 1945 Ancaman Perang Antara Kesultanan Sulu dan Malaysia di Borneo Utara
    Peta Borneo Utara
    *klik gambar untuk memperbesar

    Awalnya, Borneo Utara dihadiahkan oleh Kesultanan Brunei atas peran Kesultanan Sulu dalam meredam konflik sipil di Brunei. Pada tahun 1761, pemerintah kolonial Inggris menyewa wilayah ini sebagai pos perdagangan.

    Setelah Perang Dunia II berakhir, pemerintah Inggris hendak mengembalikan Sabah kepada Kesultanan Sulu. Namun, mayoritas warga Sabah lebih memilih untuk bergabung dengan Malaysia. Akhirnya, wilayah Sabah dan Serawak bersatu dengan Federasi Malaysia.

    Sebenarnya, klaim untuk mengembalikan wilayah ini telah dilakukan berkali-kali, namun menemui jalan buntu. Kini, Kesultanan Sulu nampaknya berniat serius setelah merasa dirugikan akibat perjanjian pemerintah Filipina dan MILF.

    Saat ini, kelompok bersenjata yang dipimpin oleh Raja Muda Azzimudie Kiram, saudara Sultan Sulu Jamalul Kiram III terus bertahan dengan tuntutannya.

    Jika proses penyelesaian sengketa tak bisa dicapai, besar kemungkinan akan terjadi solusi militer dari pemerintah Malaysia. Tentunya, konflik bersenjata ini juga akan berpengaruh pada wilayah Indonesia yang berbatasan langsung dengan wilayah konflik.

    Advertisement
    Berita Terkait
    Berita Terkait
    Diskusi