tr2

Prasasti Tugu, Bukti Sejarah Upaya Penanggulangan Banjir Abad ke 5

,

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta seolah mendapatkan pekerjaan rumah yang tak pernah usai, yakni menyelesaikan banjir yang selalu merendam wilayah ini sejak dulu. Berbagai usaha pun dilakukan, mulai dari pengurukan sungai, pengaturan pintu air, bahkan penerusan proyek jaman belanda, yakni banjir kanal timur.

Namun siapa sangka, ternyata usaha pengendalian banjir telah dimulai bahkan sejak tahun 1500an pada era Kerajaan Tarumanagara. Hal ini dibuktikan oleh keberadaan prasasti tugu. Prasasti Tugu ditemukan di kampung Batutumbuh, desa Tugu, yang sekarang menjadi wilayah kelurahan Tugu selatan, kecamatan Koja, Jakarta.

Prasasti Tugu adalah salah satu prasasti yang berasal dari Kerajaan Tarumanagara. Prasasti tersebut isinya menerangkan penggalian Sungai Candrabaga oleh Rajadirajaguru dan penggalian Sungai Gomati oleh Purnawarman pada tahun ke-22 masa pemerintahannya.

Penggalian sungai tersebut merupakan gagasan untuk menghindari bencana alam berupa banjir yang sering terjadi pada masa pemerintahan Purnawarman, dan kekeringan yang terjadi pada musim kemarau.

Jadi pada zaman kerajaan dahulu, usaha mengendalikan banjir  di wilayah sungai citarum yang sekarang dikenal dengan jakarta sudah dibuat yakni dengan membuat sungai pengendali banjir. Prasasti tugu inilah monumen peresmiannya.

tr1 Prasasti Tugu, Bukti Sejarah Upaya Penanggulangan Banjir Abad ke 5
Peta kekuasaan kerajaan Tarumanegara

Prasasti Tugu dipahatkan pada batu berbentuk bulat telur berukuran ± 1m. Pada tahun 1911 atas prakarsa P.de Roo de la Faille Prasasti Tugu batu dipindahkan ke Museum Bataviaasch genootschap van Kunsten en Wetenschappen (sekarang Museum Nasional) serta didaftar dengan nomor inventaris D.124.

Prasasti Tugu bertuliskan aksara Pallawa yang disusun dalam bentuk seloka bahasa Sanskerta dengan metrum Anustubh yang teridiri dari lima baris melingkari mengikuti bentuk permukaan batu. Sebagaimana semua prasasti-prasasti dari masa Tarumanagara umumnya, Prasasti Tugu juga tidak mencantumkan pertanggalan.

Kronologinya didasarkan kepada analisis gaya dan bentuk aksara (analisis palaeografis). Berdasarkan analisis tersebut diketahui bahwa prasasti ini berasal dari pertengahan abad ke-5 Masehi. Khusus prasasti Tugu dan prasasti Cidanghiyang memiliki kemiripan aksara, sangat mungkin sang pemahat tulisan (citralaikha > citralekha) kedua prasasti ini adalah orang yang sama.

Dibandingkan prasasti-prasasti dari masa Tarumanagara lainnya, Prasasti Tugu merupakan prasasti yang terpanjang yang dikeluarkan Sri Maharaja Purnawarman. Prasasti ini dikeluarkan pada masa pemerintahan Purnawarman pada tahun ke-22 sehubungan dengan peristiwa peresmian (selesai dibangunnya) saluran sungai Gomati dan Candrabhaga.

Prasasti Tugu memiliki keunikan yakni terdapat pahatan hiasan tongkat yag pada ujungnya dilengkapi semacam trisula. Gambar tongkat tersebut dipahatkan tegak memanjang ke bawah seakan berfungsi sebagai batas pemisah antara awal dan akhir kalimat-kalimat pada prasastinya.

Komentar

Berita Terbaru