3 Penembak Brutal di Amerika yang Memakan Banyak Korban
Nasionaljames holmeskasus penembakanDi Amerika Serikat, tak ada peraturan yang melarang warga sipil tak boleh memilki senjata api. Dengan begitu, kasus penembakan secara brutal sering kali menghiasi Negara adidaya itu. Motif dibalik kasus penembakan itupun belum jelas, saat ini polisi hanya bisa menebak dan menelusurinya,
Dari beberapa kasus penembakan secara brutal ada tiga kasus yang berhasil mendapat perhatian seluruh warga Amerika Serikat, bahkan warga Dunia. salah satunya adalah penembakan yang terjadi pada pemutaran film The Dark Knight Rises yang berhasil menewaskan 12 penonton.
Berikut para penembak dengan aksi bruta “Koboi” yang dianggap menggemparkan Amerika serta banyak memakan korban.
James Eagan Holmes

Di lihat dari kehidupan sehari-harinya, Holmes merupakan seorang yang terpelajar. Dari penampilannya, tak ada tanda-tanda Ia masalah dalam hidupnya. Banyak yang menganggap Holmes seseorang yang berhati baik. Holmes pernah tercatat sebagai “mentor” untuk kamp pelatihan anak-anak terlantar.
Di SMA-nya, Westview High School, Holmes mendapat penghargaan sebagai murid berprestasi gemilang. Pada 2010, ungkap ABC, Holmes lulus dengan gelar sarjana S-1 ilmu saraf dari University of California Riverside. Di sana, Holmes dikabarkan lulus dengan nilai pemuncak di kelasnya. Dia lalu pindah ke Kota Aurora untuk melanjutkan pendidikan di Sekolah Kedokteran Anschutz dari Universitas Colorado. Seperti nilai sebelumnya, Disekolah inipun Holmes mendapat prestasi yang memuaskan.
Tak ada yang aneh dari diri Holmes, hanya saja akhir-akhir ini Ia seakin menutup diri. Dalam penyendiriannya dikabarkan Holmes tengah mengoleksi senjata api. Ada enam ribu peluru, sejumlah gas air mata, plus rompi dan masker yang menjadi daftar koleksinya. Semua senjata itu ia beli secara di bebarapa toko senjata resmi melalui internet.
Aksi Holmes dimulai ketika ia membawa senjata api kedalam sebuah bioskop di Kota Aurora, Colorado pada 20 Juli 2012 kemarin. Seperti hendak berperang, Holmes menembaki langit-langit diatas para pengunjung yang tengah asyik menonton tayangan perdana sekuel terbaru film “Batman: The Dark Knight Rises”. Ada sekitar 12 orang yang dinyatakan tewas dalam kejadian itu dan 58 lainnya luka-luka, termasuk tiga warga Indonesia yang tinggal di Kota Aurora.
Jared Lee Loughner

Ta banyak yang mengenal kepribadian Loughner, seelama ini Ia hanya dikenal sebagai orang yang anti sosial. Dalam hal prestasi, Loughner memang tak sepintar Holmes, bahkan Ia cenderung lebih sering gagal dalam pelajarannya.
Sebelumnya tak ada masalah besar dalam hidupnya. Hanya saja Ia pernah dipecat dari restoran cepat saji, dan didepak pula dari tempat kerja di penampungan hewan. Para penyelidik menduga karena masalah ini, dan gemar pakai narkoba, kejiwaan Loughner menjadi tidak stabil. Dan berani melakukan tindakan kriminal.
Nama Loughner mulai dikenal sejak kasus penembakan di pasar swalayan di pinggir kota Tucson, Arizona, pada 8 Januari 2011 silam. Dalam kasus itu, ada sembilan belas orang yang menjadi korbannya. Enam orang diinyatakan tewas yang salah satunya adalah Hakim Pengadilan Distrik di Arizona Joh Roll.
Atas kejahatan yang telah dilakukannya, Loughner didakwa atas 49 tuduhan. Dari ke-49 perkara yang dituduhkan kepadanya, tak satupun yang ia benarkan. Kasus Loghner sudah mulai disidangkan sejak Januari 2011 dan berlangsung hingga sekarang. Kasus ini dianggap tak bisa tuntas, karena pihak pengadilan masih bingung dengan kondisi psikis Loughner.
Seung-Hui Cho

Jika Holmes dan Loughner hanya sebatas menghabiskan nyawa orang lain. Hui-cho malah ikut mengakhiri hidupnya. Nama Hui-cho mulai dibicarakan sejak kasusnya yang membantai 32 orang, dan melukai 25 lainnya di kampus Virginia Polytechnic Institute and State University di kota Blacksburg, negara bagian Virginia pada 16 April 2007. Kasus yang diberi nama “pembantaian Virginia Tech” itu sungguh sangat ironis, mengingat banyaknya korban pembantaian.
Sama seperti holmes dan Loughner, Hui-cho juga di kenal sebagai seorang yang anti sosial. Ia dinilai pendiam dan tak banyak bicara. Selain itu ia juga dikenal sebagai “anak tanda tanya” di kampusnya, hal ini karena ia tak mau menuliskan namanya pada absen kelasnya.
Motif pasti dari penembakan ini tak bisa dipastikan, hanya saja setelah insiden pembantai itu terjadi, polisi menemukan rekaman-rekaman Hui-cho yang tengah emegang senjata api dan dengan ekspresi marah. Dalam rekaman itu terlihat Hui-cho memaki-maki “anak-anak nakal,” “sombong,” dan “anak-anak kaya” yang telah “memperkosa jiwanya.”
Dari video tersebut, polisi mengira aksi ini dilakukannya karena motif dendam terhadap teman-temannya.
Discussion