Kesenian Tradisional Topeng Monyet Mendapat Kecaman Media Asing
NasionalkecamanMedia Asingtopeng monyetSaat ranah hiburan semakin berkembang seiring inovasi teknologi, terciptalah bermacam alat permainan yang canggih dan bisa dimainkan secara individu, duel bahkan antar kelompok.
Hebatnya lagi, lingkupnya pun tak terbatas dengan teman sepermainan di sekitar rumah, adanya teknologi internet bisa mengikutsertakan orang – orang dari seluruh penjuru dunia dalam satu permainan.
Meroketnya pembaruan teknologi dalam satu dekade ini membuat banyak permainan tradisional kehilangan peminat. Bagi anda yang merasakan masa kecil di era 90′an, tentu akrab dengan permainan seperti kelereng, lompat tali, dampu (temprak), bola bekel, congklak, petak umpet dan sederet permainan lain. Begitu pula dengan hiburan keliling topeng monyet, sudah pasti akan dibanjiri penonton.
Kini hampir tak ada lagi anak – anak kecil yang memberikan atensi terhadap permainan dan hiburan tradisional diatas. Mereka lebih asyik terpaku terhadap layar monitor atau layar smartphone dan berinteraksi lewat dunia maya.
Terlepas dari hal tersebut, salah satu hiburan tradisional Indonesia kini justru mendapat kecaman, yaitu Topeng Monyet. Jakarta Animal Aid Network (JAAN), sebuah organisasi nirlaba perlindungan dan penyelamatan hewan memberikan sorotan negatif terhadap kesenian ini. Dan topik ini dimuat dan bertengger pada kolom salah satu media asing ternama, Dailymail.
Dikutip dari situs tersebut, salah satu aktivis JAAN mengatakan
Kemiskinan mendorong mereka untuk mengeksploitasi monyet dengan harapan mendapatkan perubahan kecil. Dari hutan mereka ditangkap dan dibawa ke desa, dilatih untuk beraksi dalam pertunjukan jalanan. Monyet – monyet itu bertingkah layaknya manusia, seperti berbelanja dan mengendarai sepeda.
Kekejaman terhadap monyet ini merupakan penyebab adanya organisasi seperti Jakarta Animal Aid Network, dan kedepannya akan terus bertambah.




Discussion