Berita Pilihan

Siswa-Amerika-Diberikan-iPad-Sebagai-Pengganti-Buk.aspx

Rajin Ngerjain PR dapat Ipod dan Voucher Belanja

Sainshadiah sekolahpenghargaan siswasiswa berprestasi

pemandangan anak-anak yang membolos dari sekolah pada jam pelajaran tampaknya sudah tak asing lagi. Para siswa juga lebih memilih menyontek ketimbang mengerjakan PR-nya sendiri. Kedua hal itu, hanyalah merupakan segelintir kecil masalah siswa yang sering dihadapai sekolah.

Bolos sekolah sebenarnya tidak merugikan siapapun kecuali si siswa itu sendiri. Karena dengan bolos sekolah si siswa tersebut akan ketinggalan pelajarannya yang berakibat tidak mampu mengikuti pelajaran selanjutnya. Begitu juga halnya dengan tak mengerjakan PR, siswa yang lebih memilih menyontek tidak dapat melatih otaknya untuk berpikir yang berakibat buruk pada prestasinya. Meski begitu, pihak sekolah juga akan menerima kerugian tersebut. Dengan prestasi siswa yang semakin turun, maka sekolah akan di cap sebagai sekolah yang tak dapat mendidik para siswa dengan benar.

Hal ini membuat pihak sekolah risih, dan berbagai cara pun dilakukan untuk mengurang jumlah siswa yang bolos dan tak mau mengerjakan PR. Cara-cara yang tak biasa pun telah dilakukan pihak sekolah, Misalnya memasan Microchip pada seragam siswa, hingga memberikan ipod dan voucher berbelanja gratis yang disebut cara ‘Vivo Miles’.

Ipod dan Voucher belanja diberikan khusus bagi para siswa yang dapat mengumpulkan poin baik sebanyak-banyaknya. Poin-poin baik tersebut dapat diperoleh jika seorang siswa rajin bersekolah, berprilaku baik, mengerjakan pekerjaan rumah serta mengonsumsi makanan yang sehat.

Memberikan hadiah atau penghargaan kepada siswa berprestasi memang sudah hal umum yang dilakukan pihak sekolah. Namun biasanya pihak sekolah hanya memberi penghargaan berupa stiker, bintang emas dan ataupun poin asrama.

Ada sekitar 500 sekolah yang mengikuti cara ini dan berharap agar para siswa dapat meningkatkan prestasi mereka di Dunia pendidikan. Untuk membeli Ipod dan voucher belanja pihak yang merupakan anggaran sekolah diambil dari uang wajib pajak yang selama ini dibayar para siswa.

Menurut mereka yang menciptakan sistem Vivo Miles ini, cara ini sama halnya dengan menabung di Bank. Para siswa mendapatkan sebuah kartu dengan pin rahasia yang dibuatnya sendiri. Para siswa juga dapat memeriksa saldo baik yang telah dilakukannya setiap tahap sekolah. Mereka juga berkata bahwa sistem ini dapat mengajarkan para siswa akan pentingnya menabung.

Cara yang mulai diterapkan di beberapa sekolah ini tentu saja menimbulkan banyak komentar. Beberapa sekolah mungkin setuju dengan ide ini, namun tidak begitu dengan Chris McGovern, ketua Kampanye untuk pendidikan formal. Chris mengungkapkan bahwa cara ini dapat menyesatkan para siswa dan merupakan alat perusak dalam jangka panjang. Ia juga menjelaskan bahwa cara ini telah menunjukkan bahwa sebuah sekolah telah gagal dalam menyakinkan siswa akan arti pendidikan.

“Ini menyesatkan anak-anak, mereka akan berfikir bahwa untuk mengerjakansesuatu haru ada imbalan berupa hadiah,” jelasnya.

“Hal ini dapat merusak pandangan para siswa terhadap prestasi dalam jangka waktu yang panjang,” lanjutnya.

“Ini suatu cara yang menunjukkan kegagalan sekolah dalam meyakinkan para siswa tentang arti penting pendidikan.

 
Sumber: Daily Mail

Related Posts

Related Posts

Discussion