• Trending

  • hidung

    Meski Telah di Operasi, Aesha Tetap Alami Beban Mental

    Nasionalhidung terpotong

    Aesha Mohammadzai, gadis asal Afghanistan yang hidungnya dipotong oleh suaminya kini telah mendapatkan hidung baru. Aesha di kenal publik setelah majalah Time menjadikannya model pada sampul majalah. Majalah edisi agustus 2010 itu, berhasil menjadi kontroversial di Amerika Serikat setelah menampilkan pose Aesha beserta tulisan “What Happens If We Leave Afghanistan”.

    article 1319804 0B955F01000005DC 985 634x757 Meski Telah di Operasi, Aesha Tetap Alami Beban Mental

    Hidup di zaman rezim di Taliban Afghanistan, memaksa Aesha harus rela menikah di usia yang sangat muda yakni 12 tahun. Ayahnya menikahkannya dengan seorang pejuang Taliban yang merupakan satu-satunya cara untuk membayar hutang. Dalam pernikahannya, bukan emesraan yang didapatnya, melainkan penganiyayaan. Salah satu penyiksaan yang dilakukan suami dan keluarganya adalah memaksa Aesha untuk tidur dikandang bersama hewan peliharann keluarga.

    Mendapat perlakuan yang kejam, Aesha merasa tak tahan dan memutuskan untuk melarikan diri. Namun, upaya yang dilakukan untuk membebaskan diri malah membuat Ia harus kehilangan hidung dan telinganya. Ketika menangkap basah Aesha melarikan diri, disaat itulah suaminya marah dan memberi hukuman kepada Aesha dengan memotong hidung dan telinga wanita itu.

    Sesaat setelah hidung dan telinganya dipotong, Aesha langsung jatuh pingsan, dan ketika Ia tersadar, wajahnya telah dipenuhi darah.

    “Ketika Ia memotong hidung dan telinga saya, Saya pun jatuh pingsan. Namun pada malam harinya, Saya terbangun dan merasakan ada seperti cairan dingin dihidung saya. Ketika saya membuka mata, saya tak melihat apa-apa melainkan darah.” Jelas Aesha.

    Penderitaan Aesha tak cukup sampai disitu, Aesha juga dibuang oleh suaminya ke pegunungan. Beruntung Ia masih dapat bertahan dan berhasil berjalan kerumah kakeknya. Ayahnya pun membawanya ke fasilitas medis milik AS.

    Setelah menjalani perawatan selama 10 minggu, Aesha dipindahkan ke sebuah penampungan rahasia di Kabul dan diterbangkan ke AS oleh yayasan Grossman Burn Foundation. Aesha yang tinggal bersama keluarga angkatnya juga dijanjikan akan dioperasi rekonstruksi untuk hidung dan telinganya.

    Aesha yang pada saat itu tak mengerti bahasa Inggris, mulai menjalani operasi rekonstruksi perintis terhadap hidung dan telinganya. Ia menjalani perawatan rehabilitasi selama 8 bulan di West Hills Hospital, California, milik yayasan kemanusiaan Grossman Burn Center.

    Selama perawatan, Ia tinggal di sebuah rumah singgah miliki sebauh yayasan amal bernama Women for Afghan Women. Disana Aesha juga mendapatkan bantuan berupa biaya untuk pendidikannya.

    Awalnya pengoperasian hidung palsu Aesha sempat mengalami penindaan. Hal itu dikarenakan emosi wanita 22 tahun ini masih belum stabil untuk mengatasi rasa nyeri dan lamanya waktu  operasi yang diperlukan.

    Akibat dari penyiksaan yang dialaminya, mental Aesha pun terganggu. Ia juga sempat beberapa kali dipergokin melemparkan dirinya ke lantai dan membenturkan kepalanya ke tanah, meremas-remas rambutnya dan menggigiti jari-jarinya.

    Berkat bantuan Psikolog Shiphra Bakhchi, gangguan kejiwaan yang dialami Aesha mulai terobati. Akhirnya operasi renstruksi dapat berjalan dengan lancar. Meski Ia telah mendapatkan hidung palsunya, namun terkadang Aesha masih bersedih dan mengingat masa lalunya ketika Ia sedang bercermin.

    Diskusi