• Tag

  • Berita Pilihan

    khd2

    Hari Pendidikan Nasional, Momentum Musiman

    Nasionalhari pendidikanki hajar dewantaratut wuri handayani

    2 Mei setiap tahun diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Mengapa tanggal tersebut yang dipilih, karena tanggal tersebut merupakan tanggal kelahiran Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, yang sejak 1922 menggunakan nama Ki Hajar Dewantara, bapak pendidikan Indonesia. Mengapa beliau sampai bisa digelari pahlawan nasional? Itu karena beliau berjuang demi memberikan kesempatan bagi masyarakat bawah untuk ikut merasakan nikmatnya pendidikan yang pada jaman dahulu hanya diperuntukkan oleh anak-anak kaum priyayi atau bangsawan.

    khd Hari Pendidikan Nasional, Momentum Musiman

    Setiap tahun, negeri yang telah bebas dari penjajahan ini, selalu berkutat dengan masalah pendidikan. Dikatakan bahwa tahun 2012, Hari Pendidikan Indonesia dirayakan dengan tema “Bangkitnya Generasi Emas”. Dari tahun ke tahun selalu ada program atau rencana kerja milik pemerintah yang bertujuan untuk memajukan pendidikan Indonesia. Namun ternyata, peringkat Indonesia dalam hal pendidikan, terus menurun. Berarti ada yang salah dalam program pemerintah yang seharusnya meningkatkan, kenapa malah turun di mata dunia?

    khd3 Hari Pendidikan Nasional, Momentum Musiman

    Banyak pendapat mengatakan, kemajuan sebuah negara tergantung dari pendidikannya. Di Indonesia, sudah lumrah jika dikatakan segala sesuatunya membutuhkan uang. Pejabat kaya pun merasa masih kurang kekayaannya, padahal mereka itulah yang seharusnya memperjuangkan kesejahteraan rakyat. Namun, lebih mudah melihat keburukan daripada prestasi yang ditunjukkan oleh pemerintah. Dana negara lebih banyak dialokasikan untuk membayar hutang, sehingga dana untuk pendidikan, kurang menjadi prioritas.

    Belum lama, baru saja siswa sekolah tingkat SD sampai SMA melakukan Ujian Nasional, yang adalah sebuah program gagal yang terus dipertahankan. Mengapa UN saya katakan sebagai sebuah kegagalan, karena pemerintah memberi standar nasional untuk nilai kelulusan. Apakah standar pendidikannya juga sudah nasional? Apakah pelajar di Papua sudah mendapat gizi dan kualitas guru yang sama dengan pelajar di kota besar seperti Jakarta? Kalau faktor pendukung pendidikannya belum merata, berarti belum bisa diratakan nilai standar kelulusannya.

    Bandingkan dengan Finlandia, yang menjadi pusat perhatian dunia berkat keberhasilan sistem pendidikannya. Dalam hal pendidikan, Pemerintah menyokong penuh dalam hal anggaran dana. Namun, hak menentukan kurikulum dan cara pengajarannya tetap ada pada tangan guru yang mengajar. Hal ini jelas, bagaimana pemerintah tahu kualitas sebuah sekolah jika pemerintah hanya mendapat data tertulis? Sementara, guru sekolah meluangkan hampir seluruh waktunya untuk murid-muridnya. Di Finlandia juga, guru merupakan profesi yang sangat dihargai meskipun dengan gaji yang dinilai pas-pasan.

    Bedanya dengan Indonesia, untuk menjadi guru di Finlandia, harus masuk sebagai 10 lulusan S2 terbaik. Sistem ujiannya juga berbeda. Siswa memiliki hak sepenuhnya untuk melakukan ujian, kapan dia merasa siap, saat itulah ujian akan dilakukan. Jika seorang anak tidak berhasil dalam ujian, guru lah yang dianggap kurang berhasil dalam mendidik, bukan si anak yang harus dicela karena dianggap bodoh. Di Indonesia, menjadi pelajar sarat dengan beban. Mulai dari beban pelajaran yang berat, PR, bahkan sampai bimbingan belajar diluar sekolah yang seringkali mengedepankan faktor “cari untung” dalam penyelenggaraannya.

    Sudah banyak mereka yang berjiwa sosial memberikan sekolah gratis bagi mereka yang kurang mampu, apakah pemerintah belum terketuk? Bayangkan, bagaimana anda bisa berkonsentrasi belajar jika dalam hati anda was-was kalau tembok sekolah seketika bisa rubuh atau harus menempuh bahaya untuk bersekolah. Bahkan tidak jarang ada kasus dimana seorang guru tidak bersikap layaknya seorang pendidik. Jadi, jangan anda menjadi guru, tetapi jadilah pendidik. Ada arti berbeda dari ‘menggurui’ dengan ‘mendidik’.

    Keberhasilan pendidikan Indonesia tak lepas dari peran pemerintah yang harus lebih proaktif dalam penyelenggaraan pendidikan yang berkualitas. Jangan jadikan momen Hari Pendidikan Nasional sebagai saat untuk membangkitkan semangat yang mungkin dua bulan lagi semangat tersebut sudah terlupakan. Ingatlah Ki Hajar Dewantara yang tak pernah lelah memperjuangkan pendidikan untuk kaum minoritas. @ruddydisini

    Posting Terkait
    Posting Terkait
    Diskusi