Femen, Organisasi Feminis Spesialis Demonstrasi Tanpa Busana

Femen, Organisasi Feminis Spesialis Demonstrasi Tanpa Busana

Berdemonstrasi dengan orasi dan spanduk-spanduk? Sudah biasa. Bagaimana jika berdemo dengan aksi telanjang masal di jalanan? Ya, itulah yang dilakukan oleh Femen, sebuah organisasi feminis di Ukraina. Organisasi dengan jumlah anggota inti sekitar 300 orang perempuan ini kerap melakukan demonstrasi dengan bertelanjang dada.

Perempuan-perempuan muda dan cantik tidak segan-segan membiarkan dada mereka terbuka di depan umum, dan menulisinya dengan tuntutan-tuntutan yang mereka usung dalam demo tersebut. Aksesoris yang tidak ketinggalan adalah hiasan bunga menyerupai mahkota yang mereka kenakan di kepala. Terkadang mereka juga memakai sepatu boots, bawahan lingerie atau celana pendek.

Aksi Femen selalu dimuat di media-media barat karena metodenya yang tidak biasa. Melalui aksi merekalah Ukraina dikenal secara luas di dunia barat. Tubuh-tubuh anggota Femen yang dipamerkan seolah jadi senjata yang ampuh. Isu utama yang biasanya mereka usung adalah mengenai prostitusi. Prostitusi dan perdagangan perempuan memang sangat marak di Ukraina.

Promosi prostitusi memang dilakukan begitu terang-terangan di negara bekas Uni Soviet ini. Parahnya, bahkan Presiden Ukraina pun sering mempromosikan prostitusi di negaranya pada saat kunjungan ke luar negeri. Pada pertemuan Forum Ekonomi Dunia di Swiss, Presiden Ukraina menyarankan orang-orang untuk datang ke Ukraina di musim semi, saat para wanita mengurangi pakaiannya.

Selain di jalanan, Femen juga pernah beraksi di lingkungan kampus, untuk memprotes maraknya pelecehan seksual yang justru dilakukan oleh kaum intelektual seperti dosen-dosen terhadap mahasiswinya. Meskipun tema besar yang diusung Femen adalah prostitusi dan perdangan perempuan, pada momen-momen tertentu Femen juga menggelar aksi protes terhadap isu-isu penting yang sedang berkembang. Contoh diantaranya adalah  minimnya wakil perempuan di pemerintahan, dukungan terhadap revolusi Mesir, mendesak kebebasan pers, menentang hukuman mati di Iran, suplai air minum di kota, dan masalah skandal seks PM Italia Silvio Berlusconi.

Aktivis Femen Saat Mempersiapkan Aksi

Mengenai partisipasi wanita dalam parlemen, Femen menaruh perhatian cukup besar. Di Ukraina, jumlah perempuan di parlemen hanya sekitar 7%. Begitu juga halnya dengan jabatan politik, kepemilikan perusahaan, dan yang lainnya. Femen bertekad menyingkirkan dominasi kaum adam dalam kehidupan politik Ukraina. “Kami ingin merebut kekuasaan dari laki-laki, membangun barikade, memulai perang dan menciptakan masyarakat matriarkhi untuk dunia yang lebih baik,” kata Alexandra Shevchenko, salah seorang aktivis Femen yang juga merupakan pendiri organisasi Feminis ini.

Metode yang ditempuh Femen dalam menyuarakan aspirasinya banyak mengundang kontroversi. ’’Aksi mereka justru mengubah pandangan orang. Yang mereka lakukan bukan menyampaikan pesan politik, tapi striptease jalanan,’’ ujar Oksana Zabuzhko, seorang novelis Ukraina. Baginya, yang dilakukan Femen justru melecehkan martabat perempuan.

Sebenarnya, aksi bertelanjang dada ini pada awalnya adalah sebuah ketidak sengajaan. Berawal aksi menentang prostitusi di tahun 2009, Femen bedemo dengan memamerkan punggung yang terbuka yang ditulisi tuntutan mereka. Sedangkan bagian dada yang juga terbuka mereka tutupi dengan tangan. Namun, para wartawan justru lebih memilih  memotret dari depan. Sejak itulah akhirnya mereka memilih untuk bertelanjang dada dan menulisi tuntutan dan seruan-seruannya di bagian dada.

’’Kami paham bahwa satu-satunya cara menarik perhatian adalah memprotes dengan dada terbuka,’’  kata Anna Gutsol, yang juga aktivis sekaligus pendiri Femen. ’’Ini tetap aksi damai. Tapi efektif, bukan?’’ ujarnya pula. Para aktivis Femen tidak hanya membuka dadanya, tapi juga sering tanpa pakaian sama sekali.

Ya, mungkin aksi semacam ini dirasa efektif bagi mereka. Namun, ada hal yang tampak sangat paradoks antara aksi dan tuntutan Femen ini. Bagaimanapun, tema besar perjuangan mereka adalah menentang hal-hal asusila semacam prostitusi, perdagangan perempuan dan pelecehan seksual. Tapi tidak ‘kah bertelanjang dada (bahkan seluruh tubuh) didepan umum juga termasuk perbuatan asusila dan sangat tak mendidik? Apalagi dilengkapi dengan tindakan-tindakan kurang sopan semacam melepas celana dalam dan menjepretkannya bak ketapel ke arah kedutaan seperti yang pernah mereka lakukan. Batas antara perjuangan dan hal yang diperjuangkan seolah menjadi kabur.

Pendapat Anda