Berita Pilihan

twitter_bird

Perang Ejekan di Twitter Berlanjut di Dunia Nyata

Nasionalperang twitterTwitter

Kita semua tahu, twitter hanyalah sebuah jejaring sosial, jadi apapun masalah yang terjadi di twitter tetaplah di twitter. Tapi tidak untuk sebagian remaja, bukan hanya sekedar mengumpulkan follower  tapi terkadang pertengakaran yang terjadi melalui akun twitter dibawa ke kehidupan nyata. Inilah fakta yang terjadi pada 2 siswa SMA Makassar karena mereka bersikeras untuk melanjutkan perselisihan mereka dalam modus offline Twitter.

Dua siswa SMA yang berusia 16 tahun dengan inisial KPF dan NH terlibat dalam sebuah pertengkaran yang diawali saling mengejek di twitter. Buah dari hasil pertengkaran ini KPF harus dilarikan ke rumah sakit setelah NH berhasil mengiris pipinya. Pipinya robek dengan panjang sekitar 4cm  dimulai dari bibir atas hingga pipi kanan dengan dalam 1cm.KPF sendiri diperbolehkan pulang dari rumah sakit setelah mendapatkan sejumlah delapan jahitan dipipinya.

Komisaris Besar, Amran Allobaji mengatakan bahwa NH telah ditangkap. “Kami akan membebankan tersangka dengan pasal 351 KUHP dengan tuduhan penyerangan, yang diancam hukuman maksimal 5 tahun penjara,” dan untuk motifnya sendiri, pelaku marah karena dia terus-menerus diejek di Twitter.” ungkap Amran pula.

Sedang Abdul Majid Kasim, kepala sekolah di mana kedua gadis ini bersekolah, mengatakan kasus ini harus diselesaikan di luar pengadilan. “Untuk saat ini kami akan mengadakan pertemuan antara keluarga pelaku dan keluarga korban sehingga kami dapat menyelesaikan masalah ini,” katanya.

Hal ini sebaiknya jangan pernah kita contoh. Khususnya Anda Sebagai pengguna atau bahkan candu akan Jejaring sosial, coba Kita kembali kepada fungsi jejaring sosial itu sendiri. Twitter hanya salah satu cara kita berkomunikasi bukan bertengkar ataupun saling mengejek. Dalam hal ini, Kita sebagai pengguna twitter harus bisa menyaring kata-kata apa saja yang sebaiknya kita gunakan. Jika Kita tidak menyukai tweet-an seseorang, tinggal klik unfollow.

 

Sumber: Jakarta Globe

Related Posts

Related Posts

Discussion